Showing posts with label smart. Show all posts
Showing posts with label smart. Show all posts

Sunday, March 6, 2016

Ketika Kakak - Adik Seperti Tom & Jerry


Mommies masih pada ingat sama Musafa dan kakaknya Scar dari film kartun the Lion King? Bart dan adiknya Lisa dari kartun The Simpsons? Miiko dan mamoru dari komik Hai Miiko? Atau mungkin yang masih segar di ingatan adalah kakak beradik Kardashian dari reality show Keeping Up With The Kardashian. Di film atau acara TV tersebut, diceritakan bahwa tokoh-tokoh kakak beradik yang saya sebutkan diatas itu sering bertengkar, namun biasanya setelah konflik mereka selesai, mereka akan kembali rukun dan kembali menyayangi satu sama lain ( mungkin terkecuali Musafa dan Scar ya yang tidak pernah rukun ). Hubungan love/hate antar kakak beradik seperti itulah yang sering disebut dengan sibling rivalry.


Menurut Kyla Bosye dari Universitas Michigan, sibling rivalry adalah kecemburuan, kompetisi dan tertengkaran antara kakak dan adik. Sibling rivalry ini biasanya dimulai sesaat setelah anak kedua lahir dan terus berlanjut hingga masa anak-anak. Masalah sibling rivalru ini kemudian menjadi sumber stres tersendiri bagi orangtuanya (bener nggak Mommies?). Tenang, nanti pada bagian akhir dari artikel ini akan saya kasih tips and tricknya untuk mengatasi masalah sibling rivalry ini ya!

Berdasarkan tahap perkembangannya, menurut Papalia dan Feldman (pengarang buku Experience Human Development), bayi akan merasa terikat dengan kakaknya. Namun, saat bayi sudah mulai sering bergerak dan lebih asertif, mereka akan mulai terlibat konflik dengankakaknya. Kemudian konflin akan semakin sering terjadi saat sang adik sudah mencapai usia 18 bulan.

Lambat laun, setelah kemampuan kognitif dan pemahaman sosial anak tumbuh, konflik antar kakak adik cenderung menjadi konstruktif, dan sang adik ikut berusaha untuk damai. Konflik yang konstruktif ini membantu anak mengenali kebutuhan, keinginan dan sudut pandang satu sama lain sehingga membantu mereka belajar bagaimana bertengkar, berbeda pendapat, dan saling kompromi dalam hubungan yang aman dan stabil.

Saat anak sudah berusia sekitar 3-6 tahun, konflik yang paling sering terjadi antara kakak dan adik adalah mengenai hak milik (siapa yang memiliki mainan atau siapa yang berhak memainkan mainan tersebut). Sebenarnya perselisihan dan penyelesaian konflik antara kakak dan adik tersebut dapat menjadi sebuah kesempatan untuk bersosilaisasi, dimana anak belajr untuk bersikap tegas atas prinsipnya dan melakukan negosiasi atas perbedaan pendapat.

Hubungan antar kakak beradik ini juga diperngaruhi oleh hubungan sang kakak dengan teman-temannya. Apabila sang kakak memiliki hubungan yang baik dengan temannya sebelum adiknya lahir, mereka anak memperlakukan adiknya dengan lebih baik dan jarang menampilkan tingkah lalu antisosial saat remaja. Walaupun kakak dan adik sering konflik, sibling rivalry bukanlah bentuk hubungan yang paling utama antar keduanya. Mereka juga menunjukkan hubungan yang penuh kasih sayang, saling bersahabat dan saling memengaruhi.

Saat salah satu dari kakak atau adik berusia 7-9 tahun, mereka akan masuk ke tahap middle childhood dimana salah satu karakteristiknya adalah mulai bergaul dengan teman sebayanya. Perubahan ini akan menimbulkan kecemburuan dan rasa kompetitif atau hilangnya ketertarikan dan kedekatan dengan saudaranya. Namun, hubungan antara kakak dan adik dapat menjadi "laboratorium" untuk menyelesaikan konflik. Kakak dan adik termotivasi untuk berbaikan setelah bertengkar, dan mengetahui bahwa mereka akan saling bertemu setiap hari. Mereka belajar bahwa mengekspresikan kemarahan tidak akan mengakhiri hubungan persaudaraan. Kakak beradik dengan jenis kelamin sama akan lebih sering bertengkar, terutama kakak beradik laki-laki.

Bagaimana cara mengangani sibling rivalry?
  1. Jangan pilih kasih.
  2. Coba untuk tidak membandingkan satu sama lain.
  3. Ajari anak untuk kooperatif bukan ingin menandingi.
  4. Ajari anak cara positif untuk menarik perhatian saudaranya. Tunjukkan kepada mereka bagaimana cara menghampiri saudaranya untuk mengajak bermain dan berbagi mainan.
  5. Berlaku adil, tetapi jangan menyamaratakan. Kakak dan adik memiliki kebutuhannya masing-masing berdasarkan usianya, apabila anak melihat adanya perbedaan karena anak yang satunya lebih tua atau memiliki tanggung jawab, mereka akan melihat perbedaan tersebut sebagai keadilan.
  6. Pastikan anak memiliki waktu dan ruangnya sendiri. Anak memerlukan kesempatan untuk melakukan kegiatannya sendiri, bermain dengan temannya tanpa saudaranya, dan untuk memiliki ruang dan benda yang aman dari saudaranya.
  7. Ajari anak untuk mengembangkan kemampuan menyeliesaikan konflik mereka sendiri. Ajari mereka untuk berkompromi, menghormati satu sama lain, membagi barang secara adil, dll.
  8. Tidak penting siapa yang memulai pertengkaran tersebut karena dibutuhkan 2 pihak untuk terjadi pertengkaran. Buat anak memiliki tanggung jawab yang sama ketika melanggar peraturan.
  9. Saat konflik, beri anak kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya mengenai satu sama lain. Tunjukkan kepada mereka cara untuk mengungkapkan perasaan tanpa berteriak atau melakukan kekerasan.
  10. Gunakan strategi win-win solution. Dimana masing-masing pihak memperoleh sesuatu.
Anak memang harus dibiarkan menyelesaikan konfliknya sendiri, tetapi ada beberapa saat dimana orangtua harus cepat bertindak. Saat-saat dimana orang tua harus memisahkan adalah ketika :
  1. Terjadi perkelahian yang berbahaya. Segera pisahkan anak dan ketika anak sudah tenang, bicarakan mengenai apa yang terjadi dan jelaskan bahwa kekerasan sama sekali tidak diperbolehkan.
  2. Ketika anak secara rutin melakukan kekerasan fisik, dan atau ketika salah satu anak selalu menjadi korban, merasa ketakutan dengan saudaranya, dan tidak melawan balik. Orang tua harus mencari bantuan profesional karena orang tua sedang menghadapi sibling violence.
Jadi perlu diingat kalau sibling rivalry itu wajar. Mommies tidak perlu khawatir, anaknya masing saling menyayangi satu sama lain koko. Biarkan mereka hadapi dan selesaikan konflik mereka sendiri, kecuali kalau mengarak ke sibling violence, ya, Mommies





Sunday, February 28, 2016

Menanamkan Mindset Entrepreneur pada Anak Sejak Dini



Saat ini perusahaan start up berkembang pesat merambah kota-kota besar di Indonesia. Dan yang menghidupkan dan mengembangkan perusahaan start up tersebut adalah para entrepreneur muda. Sebut saja Nadiem Makarim, pendiri GoJek, Nabilah Alsagoff pemilik Doku, dan Ferry Unardi pemilik Traveloka.

Kesuksesan yang mereka capai tidak terjadi dalam waktu semalam. Mereka melalui proses yang panjang untuk dapat mengembangkan mindset yang akhirnya menghantarkan mereka ke pintu kesuksesan, seperti rasa ingin tahu yang besar, ketekunan, dan lain-lain.Maka dari itu, bukankah akan sangat bermanfaat jika Anda menanamkan mindset tersebut kepada Anak sejak dini sebagai bekal untuk dapat meraih kesuksesan di masa depan? Berikut adalah beberapa caranya:

  • Libatkan anak dalam proses bekerja sehari-hari Anda
Benjamin Franklin mengatakan, “Beritahu, maka saya akan melupakannya. Ajari, maka saya mungkin akan mengingatnya. Libatkan saya, maka saya akan belajar.”Mulai libatkan Anak-anak dalam hal-hal kecil dalam pekerjaan Anda, seperti turut membantu membuat dokumen presentasi ke klien atau mengajak anak Anda mampir sejenak ke tempat kerja Anda. Diskusikan bersama mereka betapa pentingnya perhatian terhadap hal-hal kecil tersebut dalam membangun bisnis dan karir di masa depan.
 
  • Berikan contoh entrepreneur sukses kepada anak Anda
Cari tahu bidang yang anak Anda minati dan berikan contoh entrepreneur sukses di bidang tersebut agar dapat memberikan inspirasi dan role model bagi anak Anda.  Jika anak Anda tertarik terhadap teknologi, Anda bisa menceritakan kisah perjalanan Mark Zuckerberg dalam membangun  Facebook dan Bill Gates yang membuat terobosan baru lewat perusahaan Microsoft.
 
  • Biarkan anak Anda mencoba menjadi entrepreneur
Ajak anak Anda untuk brainstorming dan mencoba menghidupkan ide-ide mereka agar dapat mengasah mindsetentrepreneur mereka, tentunya dengan persetujuan, supervisi dan bantuan Anda. Misalnya jika anak Anda tertarik dunia fashion, mereka dapat mencoba menjual baju melalui akun Instagram. Karena tidak ada pelajaran yang lebih baik dari mempraktekkannya secara langsung.

Keuntungan Anak Kembangkan Bakat Seni



Beberapa manfaat seni bagi anak yang perlu orang tua ketahui:

1. Membuat anak jadi kreatif.
Kreatif di sini berarti anak akan selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah. Contohnya, ketika bertengkar dengan temannya, ia akan tahu cara menyelesaikan konfl ik dengan baik. Bahkan, menurut Lisa Tanti, pemilik Art Nouveau, anak yang kreatif bisa saja menemukan cara menyelesaikan soal matematika, tanpa menggunakan rumus yang baku atau standar.

2. Menjadikan anak lebih percaya diri.
Melakukan seni, seperti membuat lukisan, prakarya, atau menari, akan membangun kebanggaan anak terhadap diri sendiri. Ketika anak melukis, ia akan menghabiskan waktunya selama berjam-jam, melibatkan seluruh hati dan jiwanya, berusaha mengolah, dan membuat hasil seninya menjadi indah. Ketika selesai, ia akan merasa puas dan bangga karena telah berhasil menciptakan sesuatu. Apalagi jika ditambah dengan apresiasi orang tua dan lingkungannya, kepercayaan diri anak akan semakin besar.

3. Lebih cepat mengembangkan kemampuan motorik.
Awalnya, anak akan menggerakkan seluruh lengannya untuk membuat coretan sehingga hasil coretannya menjadi tampak tak beraturan. Namun lama-kelamaan, anak akan lebih mampu mengendalikan gerakan tangannya, hingga akhirnya hanya pergelangan tangannya yang bergerak ketika ia menggambar atau menulis. Coretannya pun menjadi lebih rapi dan bermakna. Nah, anak yang terbiasa berlatih, kemampuan motoriknya akan lebih cepat berkembang dibandingkan yang jarang atau tidak dilatih. “Pada akhirnya, anak-anak inilah yang akan lebih cepat menguasai cara memegang krayon, memegang kuas, menggunting, dan menempel,”.

4. Belajar fokus.
Menurut Lisa  seni bisa sangat membantu pada anak anak berkebutuhan khusus. Pada anak dengan ADHD (attention defi cit hyperactivity disorder) yang sulit fokus, proses membuat karya seni bisa membuat mereka lebih tenang dan fokus saat melakukan sesuatu.Aktivitas, seperti menggambar, menempel, membuat anak tetap konsentrasi kepada hal yang ia lakukan, meski banyak aktivitas lain yang terjadi di sekelilingnya. Kemampuan berkonsentrasi atau fokus ini kelak berguna bagi anak ketika harus menyelesaikan soal matematika atau pelajaran lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi.