Showing posts with label orang tua. Show all posts
Showing posts with label orang tua. Show all posts

Monday, April 4, 2016

4 Hal Ini Merangsang Pertumbuhan Anak


 
 

Setelah semakin besar, stimulasi lingkungan semakin penting bagi anak. Dengan penuh rasa ingin tahu, ia akan mengeksplorasi berbagai hal menarik dari sekelilingnya. Jadi, sediakan lingkungan yang mampu mendorong rasa ingin tahunya. Hal-hal menarik ini akan membantu menstimulasi pertumbuhannya.

> Suara. Perdengarkan suara-suara yang berirama. Musik yang mengalun lembut akan menenangkan dan membuat ia terlelap saat menjelang tidur. Sementara lagu anak-anak yang riang akan membuat ia antusias dan bersemangat. Hindari suara yang keras.

> Warna. Warna-warni cerah, beragam dan kontras akan membuat ia merasa gembira dan tertarik mengamati.

> Sentuhan. Usapan lembut di pipi atau tepukan Anda di lengannya akan membuat si kecil tumbuh dengan
perasaan aman, nyaman, dan terlindungi.

> Gerakan. Sesuatu yang bergerak akan membuat ia tertarik mendekat dan menyentuh. Jangan heran kalau lambaian Anda ia sambut dengan gerakan cepat menghampiri.

Friday, March 25, 2016

KTP Untuk Anak, Apa Tujuannya?

 
Kartu Tanda Penduduk (KTP) awalnya ditujukan bagi penduduk Indonesia yang sudah cukup umur dan bertanggung-jawab, yakni 17 tahun ke atas. Tapi kini anak di bawah usia 17 tahun juga harus punya KTP, yaitu Kartu Identitas Anak (KIA). Apa tujuan anak memiliki KIA?

Mengutip dari situs resmi Kementrian Dalam Negeri, KIA diterbitkan dengan tujuan untuk mendorong peningkatan pendataan, perlindungan, dan pemenuhan hak konstitusional anak. Hal ini juga disebabkan ada fakta bahwa 56 juta anak, atau lebih dari 50% dari total populasi anak di Indonesia, tak punya akta kelahiran, mendorong Kemendagri untuk menerbitkan KIA. Kartu ini bisa dianggap melengkapi akta kelahiran karena ada keterangan alamat di dalamnya.

KIA dibagi berdasarkan rentang usia, yaitu usia 0-5 tahun dan usia 5-17 tahun. Tahap pembuatannya mudah, bagi anak batita yang belum memiliki KIA, cukup menunjukkan kutipan akta kelahiran yang asli dan photocopynya, Kartu Keluarga (KK) asli orang tua/wali, dan KTP orang tua/wali. Sedangkan untuk anak yang sudah berusia 5 tahun ke atas, persayaratannya sama dengan anak batita, dan menyertakan 2 lembar pas foto berwarna.

Salah satu kegunaan dari KIA ini adalah untuk kemudahan akses BPJS bagi anak, tanpa harus membawa fotokopi Kartu Keluarga orang tua lagi. Selain itu, kegunaannya juga bisa untuk transaksi keuangan, atau mendaftar sekolah sehingga mendorong anak jadi mandiri. Untuk mengetahui syarat dan tata cara mendaftar KIA untuk anak, Anda bisa membuka situs www.kemendagri.go.id.

Sunday, March 6, 2016

Ketika Kakak - Adik Seperti Tom & Jerry


Mommies masih pada ingat sama Musafa dan kakaknya Scar dari film kartun the Lion King? Bart dan adiknya Lisa dari kartun The Simpsons? Miiko dan mamoru dari komik Hai Miiko? Atau mungkin yang masih segar di ingatan adalah kakak beradik Kardashian dari reality show Keeping Up With The Kardashian. Di film atau acara TV tersebut, diceritakan bahwa tokoh-tokoh kakak beradik yang saya sebutkan diatas itu sering bertengkar, namun biasanya setelah konflik mereka selesai, mereka akan kembali rukun dan kembali menyayangi satu sama lain ( mungkin terkecuali Musafa dan Scar ya yang tidak pernah rukun ). Hubungan love/hate antar kakak beradik seperti itulah yang sering disebut dengan sibling rivalry.


Menurut Kyla Bosye dari Universitas Michigan, sibling rivalry adalah kecemburuan, kompetisi dan tertengkaran antara kakak dan adik. Sibling rivalry ini biasanya dimulai sesaat setelah anak kedua lahir dan terus berlanjut hingga masa anak-anak. Masalah sibling rivalru ini kemudian menjadi sumber stres tersendiri bagi orangtuanya (bener nggak Mommies?). Tenang, nanti pada bagian akhir dari artikel ini akan saya kasih tips and tricknya untuk mengatasi masalah sibling rivalry ini ya!

Berdasarkan tahap perkembangannya, menurut Papalia dan Feldman (pengarang buku Experience Human Development), bayi akan merasa terikat dengan kakaknya. Namun, saat bayi sudah mulai sering bergerak dan lebih asertif, mereka akan mulai terlibat konflik dengankakaknya. Kemudian konflin akan semakin sering terjadi saat sang adik sudah mencapai usia 18 bulan.

Lambat laun, setelah kemampuan kognitif dan pemahaman sosial anak tumbuh, konflik antar kakak adik cenderung menjadi konstruktif, dan sang adik ikut berusaha untuk damai. Konflik yang konstruktif ini membantu anak mengenali kebutuhan, keinginan dan sudut pandang satu sama lain sehingga membantu mereka belajar bagaimana bertengkar, berbeda pendapat, dan saling kompromi dalam hubungan yang aman dan stabil.

Saat anak sudah berusia sekitar 3-6 tahun, konflik yang paling sering terjadi antara kakak dan adik adalah mengenai hak milik (siapa yang memiliki mainan atau siapa yang berhak memainkan mainan tersebut). Sebenarnya perselisihan dan penyelesaian konflik antara kakak dan adik tersebut dapat menjadi sebuah kesempatan untuk bersosilaisasi, dimana anak belajr untuk bersikap tegas atas prinsipnya dan melakukan negosiasi atas perbedaan pendapat.

Hubungan antar kakak beradik ini juga diperngaruhi oleh hubungan sang kakak dengan teman-temannya. Apabila sang kakak memiliki hubungan yang baik dengan temannya sebelum adiknya lahir, mereka anak memperlakukan adiknya dengan lebih baik dan jarang menampilkan tingkah lalu antisosial saat remaja. Walaupun kakak dan adik sering konflik, sibling rivalry bukanlah bentuk hubungan yang paling utama antar keduanya. Mereka juga menunjukkan hubungan yang penuh kasih sayang, saling bersahabat dan saling memengaruhi.

Saat salah satu dari kakak atau adik berusia 7-9 tahun, mereka akan masuk ke tahap middle childhood dimana salah satu karakteristiknya adalah mulai bergaul dengan teman sebayanya. Perubahan ini akan menimbulkan kecemburuan dan rasa kompetitif atau hilangnya ketertarikan dan kedekatan dengan saudaranya. Namun, hubungan antara kakak dan adik dapat menjadi "laboratorium" untuk menyelesaikan konflik. Kakak dan adik termotivasi untuk berbaikan setelah bertengkar, dan mengetahui bahwa mereka akan saling bertemu setiap hari. Mereka belajar bahwa mengekspresikan kemarahan tidak akan mengakhiri hubungan persaudaraan. Kakak beradik dengan jenis kelamin sama akan lebih sering bertengkar, terutama kakak beradik laki-laki.

Bagaimana cara mengangani sibling rivalry?
  1. Jangan pilih kasih.
  2. Coba untuk tidak membandingkan satu sama lain.
  3. Ajari anak untuk kooperatif bukan ingin menandingi.
  4. Ajari anak cara positif untuk menarik perhatian saudaranya. Tunjukkan kepada mereka bagaimana cara menghampiri saudaranya untuk mengajak bermain dan berbagi mainan.
  5. Berlaku adil, tetapi jangan menyamaratakan. Kakak dan adik memiliki kebutuhannya masing-masing berdasarkan usianya, apabila anak melihat adanya perbedaan karena anak yang satunya lebih tua atau memiliki tanggung jawab, mereka akan melihat perbedaan tersebut sebagai keadilan.
  6. Pastikan anak memiliki waktu dan ruangnya sendiri. Anak memerlukan kesempatan untuk melakukan kegiatannya sendiri, bermain dengan temannya tanpa saudaranya, dan untuk memiliki ruang dan benda yang aman dari saudaranya.
  7. Ajari anak untuk mengembangkan kemampuan menyeliesaikan konflik mereka sendiri. Ajari mereka untuk berkompromi, menghormati satu sama lain, membagi barang secara adil, dll.
  8. Tidak penting siapa yang memulai pertengkaran tersebut karena dibutuhkan 2 pihak untuk terjadi pertengkaran. Buat anak memiliki tanggung jawab yang sama ketika melanggar peraturan.
  9. Saat konflik, beri anak kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya mengenai satu sama lain. Tunjukkan kepada mereka cara untuk mengungkapkan perasaan tanpa berteriak atau melakukan kekerasan.
  10. Gunakan strategi win-win solution. Dimana masing-masing pihak memperoleh sesuatu.
Anak memang harus dibiarkan menyelesaikan konfliknya sendiri, tetapi ada beberapa saat dimana orangtua harus cepat bertindak. Saat-saat dimana orang tua harus memisahkan adalah ketika :
  1. Terjadi perkelahian yang berbahaya. Segera pisahkan anak dan ketika anak sudah tenang, bicarakan mengenai apa yang terjadi dan jelaskan bahwa kekerasan sama sekali tidak diperbolehkan.
  2. Ketika anak secara rutin melakukan kekerasan fisik, dan atau ketika salah satu anak selalu menjadi korban, merasa ketakutan dengan saudaranya, dan tidak melawan balik. Orang tua harus mencari bantuan profesional karena orang tua sedang menghadapi sibling violence.
Jadi perlu diingat kalau sibling rivalry itu wajar. Mommies tidak perlu khawatir, anaknya masing saling menyayangi satu sama lain koko. Biarkan mereka hadapi dan selesaikan konflik mereka sendiri, kecuali kalau mengarak ke sibling violence, ya, Mommies





Thursday, March 3, 2016

Lewat Kiddle.co, Benarkah Anak Aman Akses Internet?




Baru-baru ini, muncul pesan berantai di beberapa aplikasi chatting tentang Kiddle.co, situs mesin pencari internet yang khusus untuk anak. Mungkin Mama dan Papa juga ikut menerima pesan ini, dan merasa tenang karena ada situs pencari yang ramah anak. Tapi benarkah 100% aman untuk diakses oleh anak?

Parenting melakukan tes menggunakan Kiddle.co dengan memasukkan beberapa keyword untuk mengetahui hasilnya. Hasilnya, beberapa keyword yang biasa memunculkan konten dewasa, langsung diblokir oleh situs ini. Tapi, ada juga keyword yang hasilnya mengeluarkan konten bukan untuk anak, meskipun tidak sevulgar saat kita mencari informasi di Google.com.

Perlu Anda tahu, seperti yang dikutip dari artikel mirror.co.uk, Kiddle.co bukan dikeluarkan oleh Google, tapi hanya menggunakan pencarian informasi Google yang disaring lebih ketat. Nantinya hasil pencarian pertama hingga ketiga akan termasuk situs khusus ditulis secara spesifik untuk anak. Sedangkan hasil pencarian keempat hingga tujuh akan memunculkan konten umum dengan gaya penulisan dapat dimengerti anak. Semua hasil pencarian ini merupakan hasil kurasi langsung tim editor Kiddle.

Sementara itu, hasil pencarian delapan hingga seterusnya memiliki gaya penulisan untuk orang dewasa, tetapi tetap sudah disaring oleh teknologi Google Safe Search. Konten-konten dewasa, seperti gosip tentang satu artis hingga akun resmi dari jejaring sosial tidak akan ditampilkan. Hasil pencariannya hanya akan memunculkan biografi yang isinya bersifat umum, dan dianggap aman bagi anak.

Kesimpulannya, sebagai orang tua sebaiknya tidak langsung menerima info, terutama soal Kiddle.co ini tanpa dicek dulu oleh Anda ya. Bila anak ingin menjelajahi Kiddle.co, pastikan Anda menemani dan mengawasi agar ia juga terhindar dari membuka konten yang tidak baik bagi mereka. 


Sumber : Parenting Indonesia

Sunday, February 28, 2016

Menanamkan Mindset Entrepreneur pada Anak Sejak Dini



Saat ini perusahaan start up berkembang pesat merambah kota-kota besar di Indonesia. Dan yang menghidupkan dan mengembangkan perusahaan start up tersebut adalah para entrepreneur muda. Sebut saja Nadiem Makarim, pendiri GoJek, Nabilah Alsagoff pemilik Doku, dan Ferry Unardi pemilik Traveloka.

Kesuksesan yang mereka capai tidak terjadi dalam waktu semalam. Mereka melalui proses yang panjang untuk dapat mengembangkan mindset yang akhirnya menghantarkan mereka ke pintu kesuksesan, seperti rasa ingin tahu yang besar, ketekunan, dan lain-lain.Maka dari itu, bukankah akan sangat bermanfaat jika Anda menanamkan mindset tersebut kepada Anak sejak dini sebagai bekal untuk dapat meraih kesuksesan di masa depan? Berikut adalah beberapa caranya:

  • Libatkan anak dalam proses bekerja sehari-hari Anda
Benjamin Franklin mengatakan, “Beritahu, maka saya akan melupakannya. Ajari, maka saya mungkin akan mengingatnya. Libatkan saya, maka saya akan belajar.”Mulai libatkan Anak-anak dalam hal-hal kecil dalam pekerjaan Anda, seperti turut membantu membuat dokumen presentasi ke klien atau mengajak anak Anda mampir sejenak ke tempat kerja Anda. Diskusikan bersama mereka betapa pentingnya perhatian terhadap hal-hal kecil tersebut dalam membangun bisnis dan karir di masa depan.
 
  • Berikan contoh entrepreneur sukses kepada anak Anda
Cari tahu bidang yang anak Anda minati dan berikan contoh entrepreneur sukses di bidang tersebut agar dapat memberikan inspirasi dan role model bagi anak Anda.  Jika anak Anda tertarik terhadap teknologi, Anda bisa menceritakan kisah perjalanan Mark Zuckerberg dalam membangun  Facebook dan Bill Gates yang membuat terobosan baru lewat perusahaan Microsoft.
 
  • Biarkan anak Anda mencoba menjadi entrepreneur
Ajak anak Anda untuk brainstorming dan mencoba menghidupkan ide-ide mereka agar dapat mengasah mindsetentrepreneur mereka, tentunya dengan persetujuan, supervisi dan bantuan Anda. Misalnya jika anak Anda tertarik dunia fashion, mereka dapat mencoba menjual baju melalui akun Instagram. Karena tidak ada pelajaran yang lebih baik dari mempraktekkannya secara langsung.

Keuntungan Anak Kembangkan Bakat Seni



Beberapa manfaat seni bagi anak yang perlu orang tua ketahui:

1. Membuat anak jadi kreatif.
Kreatif di sini berarti anak akan selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah. Contohnya, ketika bertengkar dengan temannya, ia akan tahu cara menyelesaikan konfl ik dengan baik. Bahkan, menurut Lisa Tanti, pemilik Art Nouveau, anak yang kreatif bisa saja menemukan cara menyelesaikan soal matematika, tanpa menggunakan rumus yang baku atau standar.

2. Menjadikan anak lebih percaya diri.
Melakukan seni, seperti membuat lukisan, prakarya, atau menari, akan membangun kebanggaan anak terhadap diri sendiri. Ketika anak melukis, ia akan menghabiskan waktunya selama berjam-jam, melibatkan seluruh hati dan jiwanya, berusaha mengolah, dan membuat hasil seninya menjadi indah. Ketika selesai, ia akan merasa puas dan bangga karena telah berhasil menciptakan sesuatu. Apalagi jika ditambah dengan apresiasi orang tua dan lingkungannya, kepercayaan diri anak akan semakin besar.

3. Lebih cepat mengembangkan kemampuan motorik.
Awalnya, anak akan menggerakkan seluruh lengannya untuk membuat coretan sehingga hasil coretannya menjadi tampak tak beraturan. Namun lama-kelamaan, anak akan lebih mampu mengendalikan gerakan tangannya, hingga akhirnya hanya pergelangan tangannya yang bergerak ketika ia menggambar atau menulis. Coretannya pun menjadi lebih rapi dan bermakna. Nah, anak yang terbiasa berlatih, kemampuan motoriknya akan lebih cepat berkembang dibandingkan yang jarang atau tidak dilatih. “Pada akhirnya, anak-anak inilah yang akan lebih cepat menguasai cara memegang krayon, memegang kuas, menggunting, dan menempel,”.

4. Belajar fokus.
Menurut Lisa  seni bisa sangat membantu pada anak anak berkebutuhan khusus. Pada anak dengan ADHD (attention defi cit hyperactivity disorder) yang sulit fokus, proses membuat karya seni bisa membuat mereka lebih tenang dan fokus saat melakukan sesuatu.Aktivitas, seperti menggambar, menempel, membuat anak tetap konsentrasi kepada hal yang ia lakukan, meski banyak aktivitas lain yang terjadi di sekelilingnya. Kemampuan berkonsentrasi atau fokus ini kelak berguna bagi anak ketika harus menyelesaikan soal matematika atau pelajaran lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Thursday, February 25, 2016

Anak Senang Mengobrol di Kelas



Anak suka mengobrol di kelas dan tidak terlalu memerhatikan saat guru menerangkan pelajaran karena kurang menyadari arti disiplin di sekolah. Selama ini, mungkin ia tidak perlu mentaati disiplin di rumah. Akibatnya, kebiasaan bersikap semaunya itu membuat ia mengobrol terus di kelas, tanpa merasa bersalah. Untuk mengurangi kebiasaannya mengobrol, coba terapkan saran berikut:
  • Buat peraturan di rumah yang disepakati bersama. Misalnya, tidak boleh bicara ketika tiba waktu belajar. Tepati hal itu, dan berikan sanksi bila ia tidak menepati. Tapi, alokasikan waktu khusus agar ia bisa mengobrol sepuasnya dengan Mama dan Papa selama satu atau dua jam sesudah belajar.
  • Perbanyak kesempatan anak bersosialisasi. Bisa jadi, ia mengobrol di kelas karena tidak punya kesempatan banyak bicara dengan teman-teman sebayanya di rumah. Dorong ia lebih banyak bergaul, misalnya dengan mengikuti berbagai kursus, atau bergaul dengan kelompok olahraga. Anda juga bisa mengundang sepupu-sepupunya menginap ketika akhir pekan tiba, agar ia bisa puas mengobrol dengan mereka. Mungkin saja anak mengobrol karena bosan, atau pelajarannya cukup sulit bagi ia. Bila itu yang terjadi, mintalah ia mengisi waktu tidak dengan mengajak teman mengobrol, namun berlatih soal-soal sendiri, sambil tetap memerhatikan apa yang diterangkan guru. Jelaskan bahwa teman-temannya bisa terganggu kalau ia mengajak mereka mengobrol selama pelajaran.

Agar Orang Tua Aktif Terlibat dalam Pendidikan Anak


Menurut para guru, keterlibatan orangtua adalah kombinasi dari komitmen dan partisipasi aktif Anda sebagai orangtua bagi anak, yang merupakan bagian dari peran Anda sebagai orangtua murid. Berikut adalah hal-hal kecil yang dapat Anda lakukan sehari-hari di rumah dan di mana saja, dan tetap aktif terlibat dalam pendidikan anak:

- Menjadi Contoh yang Baik
Perlu Anda ketahui, anak-anak lebih memandang dan meniru perilaku orang dewasa di dekatnya, daripada mendengarkan nasihat kita. Maka, jika kita memberi contoh nyata tentang bagaimana menggunakan sopan santun pada orang lain, mengikuti peraturan dengan tertib, serta makan dengan menu sehat, anak-anak pun akan meniru dengan baik, kok.

-Banyak Mengobrol dengan Anak
Tidakkah Anda ingin memiliki anak yang punya kosakata kaya, bisa berempati pada orang lain dan lingkungan, serta kritis menanggapi berbagai permasalahan?Bicarakan banyak hal dengan mereka, dengarkan pendapatnya, sampaikan pendapat Anda. Ajak anak melihat dari sudut pandang yang berbeda. Menurut Lucky, guru kelas 6, anak yang aktif terlibat dalam diskusi kelas, dan cepat tanggap pada isu yang sedang hangat, biasanya banyak mengobrol dengan orangtuanya.

-Dorong Anak Melakukan yang Terbaik
Sebagai orangtua, tentu kita ingin yang terbaik untuk anak kita. Tunjukkan pada anak bahwa pendidikan itu penting, dan sampaikan bahwa Anda berharap mereka agar bersungguh-sungguh. "Perhatikan juga bagaimana orangtua memberi reward pada hasil kerja anak, apakah fokus pada hasil, atas fokus pada usahanya. Hasilnya bisa berbeda, lho," tambah Ella, guru kelas 2.

-Memberi Kesempatan Anak untuk Berbuat Salah
Tidak apa-apa bila anak Anda tidak mendapat nilai 100. Tak masalah bila sesekali mereka lupa mengerjakan PR-nya. Jangan terlalu berkecil hati bila si juara kelas semester ini nilai rapornya turun. "Anak-anak perlu belajar salah, dan menerima konsekuensi dari kesalahannya. Karena anak yang selalu dibantu orangtua untuk sempurna, justru mudah menyerah ketika menemukan kesulitan," kata Andin, guru kelas 5.

-Mendukung Sekolah
Usahakan untuk selalu mematuhi tata tertib dan kebijakan sekolah, sehingga anak belajar menghargai sekolah dan disiplin. Jika anak Anda dirasa punya masalah atau hambatan di sekolah, segera bicarakan dengan walikelasnya. Percayalah bahwa walikelas tahu apa yang terjadi di kelas.

Aturan Anak Pakai Gadget


Dalam lima belas tahun terakhir, dunia teknologi informasi telah berkembang begitu cepat. Di sekeliling Anda, hampir semua anak dari berbagai usia begitu fasih memegang, mengoperasikan, atau berkawan dengan gadget di mana saja. Televisi, internet, komputer, video game, ponsel pintar, semua sangat menarik perhatian anak-anak. Sepuluh tahun lalu, pemandangan itu tidak terlalu umum seperti sekarang. Televisi di ruang tunggu, orang tua yang menggunakan gadget untuk bekerja adalah hal-hal wajar yang membuat anak anak terpapar gawai sejak dini.

Menurut American Association of Pediatrics (AAP), kini anak-anak menghabiskan rata-rata tujuh jam sehari untuk menggunakan media, termasuk televisi, komputer, telepon, dan alat elektronik lain. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sering merujuk kepada masalah memusatkan perhatian, kesulitan belajar, gangguan tidur dan makan, serta obesitas. Akses internet dan ponsel pintar yang tak terbatas juga memberi ruang bagi anak-anak untuk menampilkan perilaku yang berisiko.

Oleh karena itu, pada 2001 AAP mengeluarkan panduan untuk mengedukasi orang tua mengenai dampak media bagi anak, baik dari segi jumlah waktu yang digunakan untuk mengakses media maupun isi media tersebut. Dalam pernyataan AAP, orang tua diimbau mencegah anak yang belum berusia 2 tahun menonton televisi atau menggunakan gadget, dan membatasi anak-anak di atas 2 tahun hanya menggunakan gawai maksimal 2 jam sehari. Namun pada Oktober 2015, AAP mengeluarkan panduan baru mengenai penggunaan media bagi anak-anak. Panduan baru AAP itu menghilangkan pembatasan waktu mengakses media bagi anak-anak, namun lebih banyak memberikan saran tentang bagaimana  seharusnya orang tua menyikapi penggunaan media pada anak anak mereka.

Hilangnya pembatasan waktu untuk mengakses media itu menimbulkan banyak kontroversi di antara para ahli psikologi dan kesehatan anak. “Saya sangat menyayangkan sebab kenyataan di lapangan sehari-hari cukup banyak menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang, seperti terlambat bicara atau gangguan sosial emosional lain, ditengarai karena orang tua terlalu dini mengenalkan dan membiasakan anak menggunakan gawai,” papar Irma Gustiana A., M.Psi., Psi, psikolog anak dan keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

Akibat jangka panjang paparan media terhadap anak-anak usia batita memang menjadi kekhawatiran utama banyak ahli psikologi maupun kedokteran anak. Meski banyak program, acara televisi atau aplikasi mengaku bersifat edukatif, ternyata semua itu tidak menunjukkan manfaat ketika diberikan kepada batita. Hal itu karena batita masih mengembangkan kemampuan dan rentang perhatian, serta memahami alur cerita.

Apalagi, ada kalanya orang tua memasang televisi sebagai kebiasaan, tanpa memerhatikan apakah anak sedang menontonnya atau tidak. Agar tidak terlalu sepi, televisi sering dibiarkan menyala, sementara anak-anak bermain di sekitarnya. Padahal, penelitian membuktikan bahwa latar belakang suara dan cahaya dari televisi dapat memengaruhi pemrosesan informasi, ingatan, dan kelak pemahaman bacaan pada anak. Suara dan cahaya dari layar televisi atau gadget lain pun membuat otak anak tidak bisa beristirahat. Anak menjadi sulit tidur dan waktu tidurnya menjadi tidak teratur. Kebiasaan tidur yang kurang baik bisa menyebabkan gangguan mood atau perilaku anak.

Akibatnya, dalam jangka pendek, batita yang lebih banyak menonton televisi atau menggunakan gadget mengalami keterlambatan bahasa ekspresif, dan bayi yang banyak menonton televisi sendiri memiliki kemungkinan lebih besar dalam keterlambatan berbahasa. Dan biasanya, ketika balita dan anak tetap terpapar media dalam jumlah besar, mereka menjadi anak anak yang lebih sedikit bermain kreatif, lebih sedikit membaca, dan lebih sedikit berinteraksi dengan orang tua atau kakak dan adiknya. Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa waktu bermain bebas amat penting bagi anak untuk belajar keterampilan memecahkan masalah dan mendorong kreativitas. “Selain belajar melalui gadget, orang tua juga tidak boleh lupa atas tugas perkembangan anak lain, seperti belajar kemandirian dan tanggung jawab, yang tentu saja harus dipelajari di dunia nyata,” tambah Irma.

Jadi, meskipun panduan baru yang dikeluarkan oleh AAP tampak membiarkan anak-anak dan batita menggunakan gadget dan terpapar media, Anda harus sepenuhnya menyadari dan mempelajari dampak paparan media kepada anak-anak tersebut. Mama sebagai orang tua harus berperan aktif belajar melek media bersama-sama anak-anak dan menetapkan batasan-batasan yang sehat. Membatasi waktu menonton atau mengakses media, yang dikenal dengan screen time, dan menawarkan bentuk bentuk kegiatan, serta sumber informasi yang beragam, dapat menjadi cara orang tua membantu anak-anak memahami pengalaman mereka menggunakan media. Tak dapat dipungkiri lagi, literasi media menjadi keterampilan yang penting dimiliki di masa mendatang.

Irma menekankan, “Digital diet itu penting. Artinya, anak di era digital memang membutuhkan kesempatan beraktivitas dengan perangkat elektronik dan medianya. Anak mungkin akan perlu berselancar di internet mencari informasi untuk tugas sekolah, atau menggunakan video call untuk bercakap-cakap dengan orang tua yang sedang bertugas ke luar kota. Namun, orang tua harus ingat dan menerapkan keseimbangan kegiatan yang lain. Anak harus punya waktu berinteraksi dengan orang lain, bermain bebas yang aktif dan kreatif. Pada anak usia kurang dari 2 tahun, kok, sepertinya tidak ada manfaat yang benar-benar penting untuk mengenalkan mereka dengan gadget, ya? Menurut saya, sebaiknya orang tua fokus kepada tumbuh kembang anak melalui bermain yang memfungsikan seluruh panca indranya.”

Gadget Melemahkan Motorik Anak

Anak lebih suka menghabiskan waktu bermain dengan tablet atau smartphone ketimbang bermain fisik di luar ruangan? Hati-hati, Ma, karena anak berisiko mengalami keterlambatan dalam kemampuan motoriknya.

Fenomena anak dengan kemampuan motorik lemah mulai terjadi belakangan, ketika penggunaan gadget mulai mewabah hingga ke anak-anak batita sekalipun. Misalnya saja, semakin banyak anak usia TK yang bahkan belum mampu memegang pensil dengan benar, atau anak SD kelas 3 yang tulisan tangannya masih jelek. Selain itu, menurut sebuah penelitian yang dilakukan di sekolah-sekolah di Inggris, banyak pula anak yang mengalami keterlambatan berbicara atau kemampuan berbahasa yang kurang atau cadel akibat penggunaan gadget yang berlebihan.

Para peneliti mengakui bahwa aplikasi edukasi di gadget dapat membantu anak-anak masa kini menjadi lebih pintar. Tapi, masalahnya ada di kita sebagai orang tua. Banyak orang tua membiarkan anak-anak terlalu dekat dengan gadget dan tidak menyadari bahwa kebiasaan itu malah menghambat perkembangan fisik anak.

Mulai sekarang, tak ada salahnya Anda memperkenalkan permainan fisik, seperti memanjat pohon atau bermain bola kepada anak laki-laki, atau meronce manik-manik dan menguncir rambut boneka kepada anak perempuan.

sumber : parenting.co.id

Wednesday, February 24, 2016

10 Panduan Anak Pakai Gadget

Praktikkan 10 panduan lengkap penggunaan gadget pada anak terbaru versi American Association of Pediatrics (AAP):

1. Media digital hanya salah satu lingkungan anak. Seperti lingkungan lain, media juga memiliki dampak yang positif dan negatif.

2. Pengasuhan orang tua belum berubah. Semua peraturan dalam pengasuhan anak berlaku sama di dunia nyata dan virtual. Bermainlah bersama anak. Buat batasan; anak membutuhkan dan mengharapkan orang tua memberi batasan. Ajarkan tentang kebaikan. Terlibatlah dengan anak. Kenali teman-teman anak, dan ketahui ke mana saja mereka pergi.

3. Menjadi teladan itu penting. Batasi penggunaan gadget Anda, dan jadilah role model dalam menerapkan etiket online. Dalam penga
suhan, anak butuh kehadiran nyata Anda, wajah yang menatap mereka, bukan layar.

4. Kita belajar satu sama lain. Penelitian neurosains menunjukkan, anak-anak belajar paling baik dari komunikasi dua arah, bahkan pada usia sangat muda, seperti bayi 4 bulan. Percakapan antara anak dan orang dewasa yang mengasuhnya tetaplah amat penting untuk perkembangan bahasa anak. Presentasi video secara pasif tidak mendukung perkembangan bahasa pada bayi dan balita. Semakin interaktif, ada kemungkinan nilai pendidikan media itu lebih besar. Contohnya, video chat dengan nenek atau papa di kantor. Belajar melalui media yang bersifat edukatif lebih bermanfaat
, jika dilakukan setelah anak berusia 2 tahun.

5. Konten digital sangat penting. Memerhatikan kualitas isi aplikasi atau media yang digunakan anak lebih penting daripada sekadar menentukan jumlah waktu menonton.

6. Lakukan kurasi. Lebih dari 80.000 aplikas
i berlabel edukatif, tapi riset menunjukkan tidak semua aplikasi itu benar-benar edukatif. Carilah aplikasi atau produk yang lebih dari sekadar menggunakan jari untuk menunjuk atau swiping. Kunjungi laman organisasi seperti www. commonsensemedia.org untuk mendapatkan informasi tentang konten media yang sesuai usia anak dan nilai-nilai keluarga Anda.

7. Jangan abaikan keterlibatan anggota keluarga. Partisipasi keluarga dengan media digital membantu anak belajar dan berinteraksi dengan baik. Mainlah game dengan anak. Cara pandang Anda memengaruhi pemahaman anak atas pengalamannya menggunakan media. Selalu dampingi bayi dan balita Anda ketika menggunakan gadget.

8. Bermain bebas sangatlah penting. Bermain bebas merangsang kreativitas. Jadwalkan dan prioritaskan kegiatan bermain bebas tanpa gadget untuk anak-anak,  terutama yang berusia lebih kecil.

9. Tentukan batasan. Penggunaan teknologi, seperti kegiatan lain, juga memerlukan batasan yang masuk akal. Anak Anda membutuhkan batasan ini.

10. Wajar bila remaja beraktivitas daring. Mengembangkan relasi secara online merupakan bagian dari perkembangan remaja. Media sosial dapat mendukung perkembangan identitas anak. Ajari remaja Anda perilaku yang diharapkan lingkungan sosial, baik di dunia nyata maupun virtual. Belajarlah bersama si remaja untuk memahami isi dan konteks kegiatan yang ia lakukan secara online.



sumber : parenting.co.id